January 21, 2022
Potensi Pandemi COVID-19 Gelombang Tiga: Hadiah Tahun Baru bagi Masyarakat Indonesia?
January 21, 2022
Potensi Pandemi COVID-19 Gelombang Tiga: Hadiah Tahun Baru bagi Masyarakat Indonesia?

Potensi Pandemi COVID-19 Gelombang Tiga: Hadiah Tahun Baru bagi Masyarakat Indonesia?

sumber: https://www.nursingtimes.net/news/coronavirus/analysis-lessons-to-learn-for-a-second-wave-of-covid-19-05-06-2020/

Pandemi COVID-19 belum usai. Meskipun pandemi telah berlangsung hampir dua tahun lamanya, virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab COVID-19 terus menyebar dan bahkan bermutasi menjadi varian baru. Varian baru COVID-19 yang bertanggung jawab terhadap tingginya lonjakan kasus COVID-19 di awal tahun 2022 adalah varian Omicron. Varian Omicron merupakan varian dari virus SARS-CoV-2 yang diidentifikasi di Afrika Selatan pada 24 November 2021. Dua hari setelahnya, World Health Organization (WHO) menyatakan temuan di Afrika Selatan tersebut sebagai varian baru dari virus penyebab COVID-19 (WHO, 2021). Varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang cukup besar, bahkan beberapa mutasi yang ada pada varian Omicron merupakan mutasi baru (Torjesen, 2021). Tingginya tingkat mutasi pada varian Omicron membuat varian ini lebih cepat menular 70 kali lipat dibandingkan varian Delta, meskipun tingkat keparahan yang ditimbulkan oleh varian Omicron tidak separah yang ditimbulkan varian Delta (LKS Faculty of Medicine at the University of Hong Kong, 2021). Meskipun tidak memiliki tingkat keparahan seperti varian Delta, varian Omicron diduga dapat menurunkan tingkat resistensi vaksin (Torjesen, 2021). Kombinasi antara tingkat penyebaran yang tinggi dan kemampuan varian Omicron dalam menurunkan tingkat resistensi vaksin menyebabkan varian Omicron berpotensi menjadi dalang di balik gelombang ketiga pandemi COVID-19.

Gelombang ketiga pandemi COVID-19 terlihat sudah terjadi secara global karena adanya penambahan kasus COVID-19 secara signifikan. Kasus penambahan harian global COVID-19 mencapai rekor pada hari Kamis, 30 Desember 2021, setahun setelah vaksin pertama kali diluncurkan dan dua tahun setelah munculnya virus. Berdasarkan data, terjadi 1,891,956 juta infeksi di seluruh dunia. Rata-rata kasus tujuh hari (seven day average) juga berada pada titik tertinggi sepanjang masa yaitu 1,271,198 (Worldometer, 2022) dengan banyak negara mencatat rekor tertinggi kasus baru, termasuk Amerika Serikat, Australia, banyak di Eropa dan Bolivia. Hal ini disebabkan oleh gelombang infeksi virus COVID-19 varian Omicron dan Delta (Hong, 2021; Radio New Zealand, 2021).

Terhitung tanggal 18 Januari 2022, terdapat 331.127.185 kasus yang terkonfirmasi dan 5.563.105 kematian di dunia akibat pandemi COVID-19 (Worldometer, 2022). Selain itu, sudah diberikan 9.059.441.766 dosis vaksin di 184 negara dalam upaya mengatasi pandemi ini. Studi menunjukkan bahwa meskipun Omicron menginfeksi tujuh puluh kali lebih cepat daripada varian sebelumnya, penyakit yang ditimbulkannya tidak separah varian sebelumnya, terutama bagi orang yang telah divaksinasi dan menerima suntikan penguat atau booster vaksin. Kemudahan penularan dan melonjaknya jumlah kasus masih menekan kapasitas rumah sakit di seluruh dunia, membuat mereka yang tidak divaksinasi dan siapa saja yang membutuhkan perawatan medis untuk kondisi lain dalam kesulitan. Pemerintah sudah memperingatkan bahwa infeksi dan rawat inap dapat melonjak setelah liburan akhir tahun, dan menjadi masa suram baru bagi dunia yang memasuki tahun ketiga pandemi (Hong, 2021).

Di Indonesia tertanggal 18 Januari 2022, kasus positif COVID-19 berada pada angka 4.272.421, dengan kesembuhan 4.119.472, dan meninggal 144.174. Lonjakan tertinggi terjadi pada 15 Juli 2021 dengan angka 56.757 penambahan kasus, sementara pada akhir tahun tidak terlihat kenaikan yang signifikan. Berdasarkan Covid19.go.id, terjadi penambahan jumlah kasus pada 17 Januari 2022 sebanyak 772, diikuti dengan penambahan pasien yang sembuh sebanyak 598, dengan empat kematian (Covid19.go.id, 2022). 

Terkait dengan vaksinasi di Indonesia, 84.79% penduduk sasaran vaksinasi sudah mendapatkan satu dosis dan 57.60% sudah mendapatkan dosis kedua. Data ini terhitung untuk 208.265.720 penduduk sasaran vaksinasi yang mencakup tenaga kesehatan, lanjut usia, petugas publik, masyarakat rentan dan masyarakat umum, serta anak-anak usia 12-17 tahun. (Kemkes, 2022). Meskipun angka vaksinasi sudah cukup tinggi, nyatanya Indonesia tetap belum bisa mencapai herd immunity yang menyebabkan Indonesia memiliki potensi untuk mengalami gelombang ketiga pandemi.

Gelombang ketiga pandemi COVID-19 sedang terjadi di banyak negara/kawasan di seluruh dunia. Orang-orang khawatir hal ini akan menyerang Indonesia dan memaksa warga negara Indonesia untuk tetap waspada. Menurut laporan, dalam menghadapi gelombang ketiga COVID-19, Indonesia masih mampu mencegah memburuknya situasi akibat gelombang ketiga. Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, situasi ancaman pada dasarnya sama, dan situasi serupa terjadi di Indonesia pada epidemi gelombang kedua pada pertengahan tahun ini. Dengan mempertahankan kondisi yang kondusif di Indonesia saat ini, diharapkan masyarakat akan terus meningkatkan kegiatan sosial, keagamaan, dan ekonomi secara perlahan. Siti mengatakan untuk mencegah gelombang ketiga COVID-19, setiap orang harus menerapkan protokol kesehatan (Almas, P. 2021).

Pakistan saat ini berada di ambang gelombang ketiga COVID-19. Mengutip dari laman Gulf News, situasi ini terlihat dari positifnya peningkatan angka infeksi. Pada Kamis, 25 Maret 2021, sebanyak 3.946 orang dinyatakan positif COVID-19 dalam satu hari. Peningkatan ini merupakan rekor tertinggi kedua pada Juli 2020, yakni 4.432 orang per hari. Pusat Komando Operasi Epidemi COVID-19 (NCOC) di Pakistan melaporkan telah mencatat 38.858 sampel uji corona dalam 24 jam terakhir dan dipantau sebanyak 3.946 orang pakistan positif COVID-19. Ini membuat jumlah infeksi virus corona di Pakistan menjadi 640.98 dan sebanyak 14.028 orang meninggal dunia. Wilayah dengan angka kematian COVID-19 tertinggi di Pakistan adalah Punjab yakni sebanyak 6.099 orang (Sorongan, T. 2021).

Belgia juga menghadapi gelombang ketiga pandemi. Data lembaga kesehatan Sciensano Belgia mencatat jumlah kasus harian pada 14 hari terakhir rata-rata mencapai 6.728 orang. Jumlah itu naik 36 persen dari pekan lalu. Kemudian, rata-rata sebanyak 164 pasien Covid-19 masuk rumah sakit dalam tujuh hari terakhir, naik 31 persen. Adapun dirawat di ruang ICU sebanyak 343 pasien (Firmansyah, T. 2021). Karena gelombang ketiga epidemi, Belgia menerapkan blokade baru. Sekolah, toko non-makanan, dan salon akan ditutup dalam empat minggu ke depan. Perdana Menteri Belgia, Alexander De Croo, mengatakan bahwa varian virus Corona di Inggris kini telah menyebabkan peningkatan tajam jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. De Croo juga mengatakan saat ini Belgia tengah menghadapi gelombang ketiga COVID-19, sama seperti gelombang sebelumnya Belgia merasa mampu untuk mengatasi gelombang ketiga ini. Belgia juga memutuskan untuk mempercepat penyelesaian gelombang ketiga COVID-19, jika tidak akan ada masalah serius yang akan dialami Belgia (Sorongan, T. 2021)
Berhubungan dengan pola penurunan kasus COVID-19, pemerintah Indonesia mulai melonggarkan beberapa kebijakan yang ditetapkan sebelumnya. Pelonggaran tersebut antara lain, memudahkan penduduk Indonesia melakukan perjalanan antar daerah/wilayah dan peringanan PPKM dari Level 5 dan 4 menjadi Level 3, 2, dan 1 pada beberapa wilayah di Indonesia. Hal tersebut tentu saja sebuah kabar gembira yang ditunggu oleh seluruh warga Indonesia. Akan tetapi, harus diingatkan kembali bahwa pandemi COVID-19 masih belum selesai secara total dan berpotensi untuk menyebabkan gelombang ke-3 (Fahdi Fahlevi, 2021)

Pola regulasi pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi potensi gelombang ke-3 pada Desember 2021 hingga Januari 2022 dapat dinilai cukup responsif dan cepat. Pemerintah mampu mengeluarkan dan membenahi terhadap peraturan sebelumnya untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus di Indonesia. Dilansir dari covid19.go.id, pemerintah diketahui telah mengeluarkan atau mengubah beberapa kebijakan dengan merilis sebanyak 28 regulasi yang melibatkan: Kasatgas, Kementrian Hubungan, Menteri Dalam Negeri, Dirjen Imigrasi Kemenkumham, Menteri Agama, dan lain-lain, dari bulan Desember hingga November 2021. Beberapa kejadian yang awalnya diprediksi dapat menjadi potensi dalam memicu gelombang ke-3 adalah Hari Raya Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Kedua acara besar tersebut selalu diprediksi sebagai pemantik terjadinya peningkatan kasus yang tidak dapat dikendalikan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semua negara lain di dunia.  

Antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak hanya terfokuskan pada kedua hari raya, tetapi pemerintah juga melakukan perubahan yang cepat ketika WHO menetapkan varian COVID-19 yang terbaru, yaitu varian B. 1. 1. 529 (Omicron). WHO menetapkan varian terbaru pada tanggal 26 November 2021 dan Indonesia melakukan revisi terhadap kebijakan-kebijakannya dengan merilis Surat Edaran Dirjen Imigrasi Kemenkumham Nomor Imi-0269.GR.01.01 Tahun 2021 dan Surat Edaran Kasatgas Nomor 23 Tahun 2021 pada tanggal 28 November 2021 (WHO, 2021). Berdasarkan hal tersebut, tingkat respon pemerintah indonesia dapat dinilai cukup responsif dalam mengantisipasi masuknya varian baru, Omicron, yang diketahui lebih cepat dalam penyebaran. Dilansir dari covid19.go.id, pemerintah juga mengeluarkan Surat Edaran Mendagri Nomor 440/7183/SJ pada tanggal 22 Desember 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Coronavirus Disease 2019 varian Omicron. Hal tersebut berdekatan dengan pemerintah mengumumkan kasus pertama varian Omicron di Indonesia pada 16 Desember 2021.  Dengan demikian, dapat dinilai bahwa pemerintah sudah baik dan melibatkan banyak pihak dalam mengantisipasi potensi gelombang ke-3  dan varian Omicron yang sudah memasuki Indonesia.  

Mendekati penghujung tahun 2021, tingkat disiplin dan ketaatan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) semakin turun. Berdasarkan data skor kepatuhan masyarakat terhadap prokes yang dirilis Satgas Penanganan COVID-19 (dalam Angga, 2021), terlihat bahwa ketaatan masyarakat terhadap prokes mulai turun sejak bulan November. Skor ketaatan masyarakat masyarakat terhadap prokes pada bulan November berada pada angka 7.86 untuk ketaatan memakai masker, 7.85 untuk ketaatan dalam menjaga jarak, dan 7,91 untuk ketaatan mencuci tangan. Padahal, pada bulan sebelumnya, skor ketaatan masyarakat terhadap prokes konsisten berada di angka 8, dengan catatan skor ketaatan memakai masker mencapai angka 8.23, skor ketaatan mencuci tangan pada angka 8.09 dan skor kepatuhan menjaga jarak 8,03. Bahkan, menurut Dashboard Monitoring Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 (dalam Angga, 2021), pada rentang 1-11 Desember 2021, terdapat 59 kabupaten/kota yang kurang dari 75% penduduknya memakai masker serta 75 kabupaten/kota yang kurang dari 75% penduduknya yang menerapkan jaga jarak. Hal ini sangat disayangkan mengingat pandemi COVID-19 belum usai dan masih adanya potensi terjadinya gelombang ketiga.

Turunnya ketaatan masyarakat dalam menjalankan prokes tidak terjadi tanpa sebab. Berdasarkan Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi COVID-19 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (2021), alasan utama masyarakat tidak taat menjalankan prokes adalah karena tidak adanya sanksi jika tidak menerapkan prokes. Adapun alasan lainnya meliputi tidak adanya kejadian COVID-19 di sekitar masyarakat, prokes menyulitkan pekerjaan, harga alat-alat penunjang prokes (masker, hand sanitizer, face shield, dan APD lainnya) cenderung mahal, mengikuti orang lain, serta tidak adanya contoh dari aparat maupun pimpinan. Namun, selain semua alasan tersebut, faktor utama yang menyebabkan turunnya ketaatan prokes pada masyarakat adalah akibat dari turunnya angka kejadian COVID-19 secara signifikan di Indonesia. 

Turunnya angka kejadian COVID-19 tidak dapat dijadikan validasi yang tepat dalam menurunkan ketaatan terhadap prokes dan kewaspadaan terhadap COVID-19. Contohnya adalah beberapa negara yang mengalami gelombang ketiga pandemi COVID-19 seperti India, Jepang, Vietnam, dan Turki (Chandra, 2021). Berdasarkan COVID Resilience Ranking yang dikeluarkan oleh Bloomberg (2021), negara dengan tingkat resiliensi tertinggi terhadap pandemi COVID-19 adalah Chili (74.1), Irlandia (72.9), dan Uni Emirat Arab (72.9). Sementara itu, negara tetangga Indonesia seperti Singapura berada pada peringkat 18 (65.7) dan Malaysia berada pada peringkat 47 (54.2). Sementara itu, Indonesia berada pada peringkat 51 (50.6). COVID Resilience Ranking merupakan gambaran bulanan mengenai sejauh mana sebuah negara efektif dalam menangani pandemi COVID-19. Dalam mengukur tingkat resiliensi ini, terdapat 12 indikator data yang digunakan, mencakup penahanan virus, kualitas perawatan kesehatan, cakupan vaksinasi, kematian secara keseluruhan, dan tingkat kematian yang diakibatkan oleh perjalanan.

Berkaca dari COVID Resilience Ranking, terlihat bahwa per Desember 2021, Chili, Irlandia, dan Uni Emirat Arab adalah negara yang paling efektif dalam menangani pandemi, khususnya terkait munculnya varian omicron. Paris (dalam Thomson dan Fuentes, 2021) menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan Chili sukses menahan laju pandemi, yakni tingkat vaksinasi yang tinggi serta kondisi cuaca musim panas yang menghambat penyebaran virus. Terkait vaksinasi, Chili sangat menekan proses vaksinasi. Bahkan, hampir setengah dari populasi masyarakat Chili telah mendapat vaksin dosis ketiga dan pemerintah Chili merencanakan dosis keempat pada Februari 2022. Selain itu, ketaatan masyarakat dalam menerima dosis vaksin serta menaati protokol kesehatan seperti memakai masker juga menjadi faktor pendukung yang menyebabkan Chili mampu bertahan dengan baik ketika banyak negara mengalami lonjakan kasus COVID-19 di penghujung 2021. Mirip seperti Chili, Irlandia juga menekankan vaksinasi sebagai kekuatan dalam menghadapi lonjakan kasus COVID-19 secara global. Moore (2021) menekankan bahwa pengaruh pemberian kebebasan kepada orang yang telah divaksinasi membuat tingkat vaksinasi meningkat di Irlandia. Pada saat ini, sekitar 90% populasi orang dewasa telah mendapat dua dosis vaksinasi, sehingga sebagian besar masyarakat telah hidup bebas secara domestik. Sementara itu, Uni Emirat Arab yang telah dikenal sebagai salah satu negara paling efisien dalam mengatasi pandemi COVID-19 sangat menerapkan komunikasi yang baik dengan warganya. Pemerintah UEA memanfaatkan berbagai platform digital untuk mensosialisasikan mengenai bahaya COVID-19, sehingga masyarakat dapat membangun kesadaran yang baik dalam mengantisipasi COVID-19. Selain itu, pemerintah dan masyarakat juga sangat responsif dalam menerapkan protokol kesehatan (Hosany dkk., 2021). Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap ketiga negara yang cukup berhasil menangani pandemi tersebut, terdapat tiga kunci utama yang dapat dilakukan dalam menangani pandemi, yakni menegakkan penerapan prokes, meningkatkan vaksinasi, serta memberdayakan masyarakat lewat edukasi dan sosialisasi.

Pandemi COVID-19 telah membaik berdasarkan pengurangan infeksi harian dan kematian. Selain itu, proses vaksinasi masyarakat  terus berlanjut hingga saat ini. Namun, masyarakat diimbau waspada, tidak lengah, terhadap potensi lonjakan COVID-19 atau gelombang ketiga di Indonesia. Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Pusat Kesehatan Lingkungan dan Kependudukan Griffith University di Australia, mengatakan  gelombang ketiga COVID-19 sangat mungkin terjadi di Indonesia. Ia mengatakan, masih relatif rendahnya proses vaksinasi di Indonesia menjadi salah satu pemicu gelombang ketiga COVID-19. Sampai saat ini cakupan vaksinasi di Indonesia sudah mencapai 66,89% untuk dosis pertama. Namun, perlu juga ditegaskan bahwa Indonesia tidak seperti negara-negara lain pada umumnya. Indonesia memiliki 514 kabupaten dan kota, dan 34 provinsi yang menjadi tantangan dalam distribusi, pemerataan, dan bahkan cakupan vaksinasi (Antara, 2021). Hal ini menyebabkan masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan yang baik terhadap infeksi virus. Dicky Budiman, bagaimanapun, mengatakan prediksi ini masih dinamis. Semakin disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan, maka  semakin kecil kemungkinan terjadi gelombang ketiga COVID-19, dan kemungkinan kasus COVID-19 melonjak tinggi seperti pada gelombang kedua di bulan Juli 2021 juga semakin menurun (Pinandhita, 2021). 

Ancaman gelombang ketiga di Indonesia diakibatkan oleh kehadiran varian Omicron yang menyebar dengan cepat. Jika melihat pada situasi yang terjadi di Afrika Selatan, puncak gelombang ketiga terjadi dalam kurun waktu hanya 37 hari sejak Omicron menyebar. Tingkat mobilitas masyarakat Indonesia yang saat ini yang semakin meningkat setelah libur akhir tahun menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada kemungkinan terjadinya gelombang ketiga di Indonesia. Berdasarkan Laporan Mobilitas Masyarakat selama Pandemi COVID-19 hingga tanggal 25 Desember 2021, terjadi peningkatan pergerakan masyarakat sebesar 10% di tempat-tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman hiburan, museum, perpustakaan, dan bioskop jika dibandingkan dengan bulan November 2021. Jika pola perilaku masyarakat mulai lengah dalam menjalankan prokes dan mengabaikan cepatnya transmisi varian Omicron, Indonesia akan dihadapkan pada gelombang ketiga pandemi COVID-19 (Ananda, 2021).

Tahun ketiga di era pandemi mengantarkan banyak negara pada situasi yang berbeda, tak terkecuali Indonesia. Menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus yang cenderung mengalami penurunan serta dengan tingkat vaksinasi yang cukup dan terus meningkat,  membuat banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan beberapa bulan ke belakang kembali dilakukan, seperti aktivitas di tempat wisata, mall, bahkan sekolah. Perjalanan udara, darat, laut yang dilakukan antar provinsi hingga antar negara sudah kembali dioperasikan dengan aturan-aturan berbeda merujuk pada surat edaran Satgas COVID-19. Namun, seperti pisau bermata dua, kemajuan tersebut seakan kembali membawa kekhawatiran karena berpotensi mendatangkan gelombang baru dari kasus COVID-19 utamanya di Indonesia. Terlebih, variasi jenis virus COVID-19 juga mengalami banyak pembaruan. Mulai dari Alpha, Beta, Gama, Delta, dan jenis terbarunya, varian Omicron yang juga menambah potensi datangnya gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia, mengingat lebih cepatnya varian ini menular dibandingkan varian virus lainnya. Belum lagi, sulitnya pendistribusian vaksin serta rendahnya cakupan vaksinasi di Indonesia juga menjadi pemicu terjadinya gelombang ketiga sebagai akibat dari kekebalan masyarakat Indonesia yang belum cukup baik dari ancaman infeksi virus. Kelalaian serta sikap tak acuh dari sebagian besar kelompok masyarakat terhadap protokol kesehatan juga masih dipandang tinggi. Padahal, mobilitas sebagian besar penduduk Indonesia juga cenderung tinggi, yang pada akhirnya menambah satu lagi alasan potensi kembali meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia. 

Sebenarnya, pemerintah Indonesia juga sudah merilis aturan mengenai Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berkaitan dengan varian baru Omicron, sebagai salah satu bentuk upaya penanggulangan terjadinya gelombang baru kasus COVID-19 di Indonesia. Selain itu, program vaksinasi juga masih dilakukan dengan harapan terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity sebagai langkah pencegahan adanya kasus baru. Pemerintah sampai saat ini pun masih melakukan evaluasi terhadap aturan serta ketetapan yang dibuat demi tercapainya tujuan bersama. Seluruh upaya yang dilakukan pemerintah akan menjadi sia-sia apabila tidak dibarengi dengan dukungan masyarakatnya. Sinergitas dari pemerintah, masyarakat, serta pihak-pihak lain masih menjadi senjata yang paling ampuh digunakan untuk berperang melawan COVID-19 pun mencegah terjadinya ledakan kasus yang dapat memicu gelombang ketiga. 

Sebagai masyarakat, hal paling sederhana seperti disiplin memakai masker dapat kita lakukan. Apapun variannya, masker adalah senjata paling ampuhnya. Membiasakan diri untuk memakai masker saat bertemu dan melakukan kegiatan di era pandemi ini menjadi hal utama namun sederhana yang bisa kita lakukan untuk menerjang badai COVID-19. Selain itu, protokol kesehatan lainnya sebenarnya juga tidak bisa diabaikan. Menjaga jarak serta rutin mencuci tangan minimal menggunakan hand-sanitizer masih menjadi hal yang tidak boleh dianggap remeh. Tak hanya itu, upaya mitigasi dan edukasi sebenarnya juga masih menjadi wewenang kita bersama dalam pencegahan gelombang ketiga ini. Selain disiplin prokes, selalu mengindahkan aturan pemerintah serta rutin untuk mencari tahu situasi terkini COVID-19 minimal di daerah sekitar tempat tinggal pun juga bisa dilakukan. Dengan sinergitas tersebut kita bisa bersama meminimalisir potensi terjadinya ledakan gelombang ketiga yang sampai saat ini masih sangat mungkin untuk terjadi.

Referensi

Almas, P. 2021. Kemenkes: Gelombang Ketiga Covid-19 Masih Bisa Dicegah. [online] Republika.co.id. Available at https://www.republika.co.id/berita/r31q1h425/kemenkes-gelombang-ketiga-covid19-masih-bisa-dicegah.

Ananda, R. 2021. Tiga Kunci Utama Hadapi Ancaman Gelombang 3 Covid-19 Varian Omicron. [online] IDXchannel.com. Available at: https://www.idxchannel.com/economics/tiga-kunci-utama-hadapi-ancaman-gelombang-3-covid-19-varian-omicron

Angga, D. 2021. Satgas Covid-19: Kepatuhan Masyarakat Terhadap Prokes Menurun. [online] iNews ID. Available at: https://www.inews.id/news/nasional/satgas-covid-19-kepatuhan-masyarakat-terhadap-prokes-menurun/2.

Antara. 2021. 29,208 Rural COVID-19 Posts Set Up to Prevent Third Wave: Task Force. [online] Medcom.id. Available at: https://www.medcom.id/english/national/GNlg3agK-29-208-rural-covid-19-posts-set-up-to-prevent-third-wave-task-force

Badan Pusat Statistik. 2021. Perilaku Masyarakat Pada Masa PPKM Darurat, Hasil Survei Perilaku Masyarakat pada Masa Pandemi Covid-19, Periode 13-20 Juli 2021. [online] Badan Pusat Statistik. Available at: https://www.bps.go.id/publication/2021/08/02/29234b08faa4910dee5279af/perilaku-masyarakat-pada-masa-ppkm-darurat–hasil-survei-perilaku-masyarakat–pada-masa-pandemi-covid-19–periode-13-20-juli-2021.html

Bloomberg. 2021. The Covid Resilience Ranking: The Best and Worst Places to Be as Omicron Upends Christmas. [online] Bloomberg. Availabe at: https://www.bloomberg.com/graphics/covid-resilience-ranking

Chandra, G. 2021. RI Jangan Euforia, Ini Negara yang Diserang Gelombang 3 Covid. [online] CNBC Indonesia. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20211008110348-4-282389/ri-jangan-euforia-ini-negara-yang-diserang-gelombang-3-covid

Covid19.go.id. 2022. Peta Sebaran COVID-19 di Indonesia. [online] Covid19.go.id. Available at: https://covid19.go.id/peta-sebaran.

Firmansyah, T. 2021. Belgia Catat Lonjakan Tajam Kasus Covid-19. [online] Republika.co.id. Available at: https://republika.co.id/berita/r21zgk377/belgia-catat-lonjakan-tajam-kasus-covid19.

Hosany, F. A., Ganesan, S., Memari, S. A., Mazrouei, S. A., Ahamed, F., Koshy, A., and Zaher, W. 2021. Response to COVID-19 pandemic in the UAE: A public health perspective. Journal of Global Health, 11:03050. DOI: 10.7189/jogh.11.03050.

Hong, J., 2021. World Hits Record Daily Covid Cases as Omicron Mars Christmas. [online] Bloomberg. Available at: https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-12-28/world-hits-record-daily-covid-cases-as-omicron-mars-christmas.

Kementerian Kesehatan (Kemkes). 2022. Vaksinasi COVID-19 Nasional [Data per Tanggal 17 Januari 2022]. [online] Vaksin.kemkes.go.id.fa Available at: https://vaksin.kemkes.go.id/#/vaccines.

LKS Faculty of Medicine at the University of Hong Kong. 2021. HKUMed Finds Omicron SARS-CoV-2 can Infect Faster and Better than Delta in Human Bronchus but with Less Severe Infection in Lung. [online] HKU Med. Available at https://www.med.hku.hk/en/news/press/20211215-omicron-sars-cov-2-infection?utm_medium=social&utm_source=twitter&utm_campaign=press_release.

Moore, J. 2021. Ireland Named ‘Best Country’ for Response to Pandemic in Bloomberg Monthly Resilience Ranking. [online] The Journal. Available at: https://www.thejournal.ie/ireland-best-country-for-covid-response-5560392-Sep2021

Pinandhita, V. 2021. RI Tembus 60 Pasien Omicron dalam 2 Pekan, Sebesar Apa Risiko Gelombang-3?. [online] Detik Health. Available at: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5878879/ri-tembus-60-pasien-omicron-dalam-2-pekan-sebesar-apa-risiko-gelombang-3

Radio New Zealand. 2021. Omicron and Delta Driving a Tsunami of Covid-19 Cases, WHO says. [online] Radio New Zealand. Available at: https://www.rnz.co.nz/news/world/458802/omicron-and-delta-driving-a-tsunami-of-covid-19-cases-who-says.

Sorongan, T. 2021. 4 Negara Ini Dibayangi Gelombang Ketiga Covid-19. [online] CNBC Indonesia. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20210327004301-4-233278/duhgawat-4-negara-ini-dibayangi-gelombang-ketiga-covid-19.

Thomson, E. and Fuentes, V. 2021. The Factors in Chile’s Covid Success. [online] Blommberg. Available at: https://www.bloomberg.com/news/newsletters/2021-12-29/the-factors-in-chile-s-covid-success.

Torjesen, I. 2021. Covid-19: Omicron may be more transmissible than other variants and partly resistant to existing vaccines, scientists fear. British Medical Journal, 375:n2943. DOI: 10.1136/bmj.n2943.

World Health Organization. 2021. Classification of Omicron (B.1.1.529): SARS-CoV-2 Variant of Concern. [online] WHO. Available at: https://www.who.int/news/item/26-11-2021-classification-of-omicron-(b.1.1.529)-sars-cov-2-variant-of-concern

Worldometers. 2022. Coronavirus Cases: Statistics and Charts – Worldometer. [online] Worldometers. Available at: <https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.